SDGs, ISO dan SNI

Tri Hendro A. Utomo

sdgs_poster_new1

Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (UN General Assembly) pada 25-27 September 2015 yang dihadiri oleh 159 Kepala Negara menghasilkan kesepakatan baru mengenai Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang tertuang dalam dokumen Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. SDGs tersebut berisikan 17 tujuan (goals) yang kemudian didetailkan menjadi 169 target yang kesemuaanya diagendakan pencapaiannya sampai dengan tahun 2030. Ketujuhbelas capaian SDGs disusun dengan mempertimbangkan dan menyeimbangkan tiga pilar pembangunan berkelanjutan yaitu : Pembangunan Manusia; Pembangunan Ekonomi dan Pembangunan Lingkungan.

Setelah hampir dua tahun SDGs disepakati, pada tanggal 4 Juli 2017 Presiden Indonesia menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Perpres tersebut  merupakan salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Developmen Goals. Dimana capaian TPB diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dalam Perpres  ditetapkan sasaran TPB Nasional periode tahun 2017 sampai tahun 2019 yang merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Pada Lampiran  Peraturan tersebut disajikan tabel Sasaran Nasional tahun 2015  – 2019 dengan total sasaran berjumlah sekitar 209 sasaran. Sasaran tersebut dikaitkan dengan tujuan dan sasaran global yang ada dalam SDGs. Dalam mencapai sasaran tersebut  juga sudah telah ditetapkan Instansi Pelaksana Sasaran Nasional baik di tingkat Pusat mupun di Daerah. Capaian terhadap sekitar 209 sasaran tersebut berarti tinggal kurang lebih 2 tahun lagi.

 

SDGs/TPB

Meskipun tinggal tersisa kurang lebih 2 tahun lagi, namun capaian TPB sampai dengan tahun 2019 sebanyak 209 sasaran  tersebut sebenarnya telah dibagi habis kebeberapa instansi pelaksana seperti pada Lampiran Peraturan Presiden 59 Tahun 2017.  Pembagian tersebut disesuaikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 – 2019. Meskipun demikian dalam pencapaian sasaran tersebut dipandang perlu untuk mengunakan instrumen pendukung yang dapat membantu  dalam : pengorganisasian capaian (koordinator), membantu instansi pelaksana dalam mencapai capaian  dan juga dapat berfungsi sebagai indikator capaian.

Banyak alternatif instrumen yang dapat digunakan, salah satunya adalah dalam bentuk standar.  Banyak standar yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak, salah satunya adalah yang di terbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO). Pemilihan standard tersebut dikeranakan standar ISO dikenal secara Internasional sehingga akan mudah untuk dikomunikasikan dan merupakan dokumen yang dihasikan dari kesepakatan banyak negara, sehingga keberterimaannya sangat luas. Secara umum banyak Standar ISO yang dapat digunakan, namun disini mencoba mengkaitkan antara beberapa standar seri ISO 14000 yang dihasilkan oleh ISO/TC 207 Environmental Management dengan beberapa capaian dari 17 capaian TPB.

Ketujuh belas Tujuan Global tersebut yaitu : 1. Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di mana pun, 2. Menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan, 3. Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk semua usia, 4. Menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua, 5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan, 6. Menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan saniasi yang berkelanjutan untuk semua, 7. Menjamin akses energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua, 8. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh, serta pekerjaan yang layak untuk semua, 9. Membangun infrastruktur yang tangguh, meningkatkan industry inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi, 10. Mengurangi kesenjangan intra dan antarnegara, 11. Menjadikan kota dan pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan, 12. Menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, 13. Mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya, 14. Melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan untuk pembangunan berkelanjutan, 15. Melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati, 16. Menguatkan masyarakat yang inklusif dan damai untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses keadilan untuk semua, dan membangun kelembagaan yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan, 17. Menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

 

ISO

Standar ISO seri 14000 yang dapat digunakan sebagai instrument pendukung pertama adalah terkait dengan sistem manajemen ISO 14001:2015. Standar ISO 14001:2015 Sistem Manajemen Lingkungan (SML) adalah standar generik terkait manajemen lingkungan dengan pendekatan Perencanaan, Pelaksanaan, Pengecekan dan Tindakan (plan, do, check, act (PDCA)). Standar ini bertujuan untuk memberikan kepada suatu organisasi kerangka kerja dalam melindungi dan tanggap terhadap perubahan kondisi lingkungan dalam menyeimbangkan antara kebutuhan sosial dan ekonomi.

Pada tingkat pengorganisasian capaian TPB, standar ini dapat digunakan oleh Tim Koordinator Palaksana Capaian untuk membantu mengelola capaian TPB. Tim Koordinator sebagai organisasi yang mengkoordinir capaian melalui pendekatan PDCA menyusun keranka kerja pengkoordinasian untuk kemudian dilaksankan bersama dengan Instansi Pelaksana. Kerangka kerja tersebut kemudian menjadi dasar bagi beberapa Instansi Pelaksana yang bertanggung jawab dalam mencapai tujuan dan sasaran yang sama yang telah ditetapkan.

Ketika diturunkan pada tingkat Instansi Pelaksana, standar ISO 14001:2015 dapat memberikan kerangka kerja capaian TPB bagi Instansi Pelaksana. Kerangka kerja yang ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran menjadi acuan pelaksanaan bagi Instansi Pelaksana, sehingga ada konsistensi terhadap perencanaan pencapaian tujuan dan sasaran capaian TPB yang telah ditetapkan. Setalah dilaksanakan yang telah direncanakan, dilakukan pengecekan kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan, dan hasil pengecekan akan menjadi bahan untuk  tindakan perbaikan. Standar ini dapat digunakan oleh satu atau beberapa Instansi Pelaksana yang mempunyai Tujuan dan Sasaran yang sama. Selain itu  seluruh Instansi Pelaksana 17 capaian TPB sebagai suatu organisasi dapat mengadopsi sistem manajemen ini untuk mengelola pencapaiannya.

Selain itu ISO 14001:2015 juga dapat digunakan sebagai indikator capaian untuk beberapa capaian TBP. Indikator capaian yang dimaksud adalah sesuatu yang mengindikasikan capaian terhadap sasaran pada TPB. Beberapa capaian tersebut diantaranya TPB  2, 6, 8, 9, 11, 12, 13, 14, dan 15. Gambaran berikut diharapkan dapat memperjelas maksud indikator capaian dengan instrumen ISO 14001:2015 pada TPB 11 yaitu “menjadikan kota dan pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan” sebagai berikut.

Kota sebagai suatu organisasi dengan banyak fungsi, tugas dan tanggungjawab sebaiknya menerapkan suatu sistem pengelolaan. Sistem tersebut berfungi untuk mengintegrasikan fungsi dari seluruh unit teknis kota terkait dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab untuk mancapai tujuan dan sasaran bersama yang ditetapkan. Dimana dalam menetapkan tujuan dan sasaran tersebut kota harus memperhatikan isu yang relevan dengan tugas dan fungsinya serta  memahami akan kebutuhan dan harapan pihak terkait diantaranya warga kota. Isu kota yang relevan diantaranya terkait dengan pemukiman, urbanisasi, dampak lingkungan, ruang publik, kesenjangan ekonomi dan transportasi. Terkait dengan hal tersebut tugas utama kota adalah mensinergikan pembangunan lingkungan, sosial dan ekonomi dalam menangani permasalahan perkotaan

Tujuan dan sasaran yang ditetapkan tersebut kemudian dilengkapi dengan program untuk mencapainya dan dimasukkan ke dalam perencanaan kota yang akan dilaksanakan oleh seluruh unit teknis terkait kota. Program yang disusun mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta keterlibatan instansi teknis. Contoh ketika Kota membuat program Transportasi Berkelanjutan maka harus mempertimbangkan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari emisi moda transport dan rute yang dipilih sehingga dapat meminimalkan dampak ke lingkungan dengan melibatkan instansi teknis terkait lingkungan dan perhubungan. Aspek akses masyarakat terhadap transportasi untuk meminimalkan dampak sosial dan perhitungan jumlah orang atau barang dan waktu yang diperlukan untuk memindahkan dari satu titik ke titik lain sehingga bisa efisien dengan melibatkan instansi teknis sosial dan ekonomi. Semua yang telah direncanakan tersebut dilaksanakan kemudian dievaluasi kesesuaian pelaksanaannya dengan perencanaan. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk perbaikan.

Tahapan di atas merupakan tahapan yang ditetapkan dalam kerangka kerja menggunakan pendekatan ISO 14001:2015. Tahapan tersebut dilakukan secara terus menerus sehingga kota akan selalu melakukan perbaikan untuk keberlanjutannya sehingga membuat kota menjadi pemukiman yang inklusif, aman dan tangguh.  Dengan demikian, ketika makin banyak kota sudah menerapkan ISO 14001:2015 berarti sudah banyak kota yang menuju “Kota Berkelanjutan” yang dapat menjadi indikator pada capaian TPB 11.

Kedua adalah standar terkait produk yaitu seri ISO 14020 dan seri ISO 14040. Kedua seri standar tersebut berhubungan produk (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh organisasi. Seri standar ISO 14020 terkait dengan pelabelan lingkungan, dimana suatu produk boleh menempelkan logo (eco-label) yang mengidentifikasikan bahwa produk tersebut telah memenuhi persyaratan lingkungan yang ditetapkan atau mengklaim bahwa produknya telah mempertimbangkan aspek lingkungan atau produk ramah lingkungan (environmentally product). Seri ISO 14040 terkait dengan penilaian daur hidup (life cycle assessment (LCA)) produk, dimana produk dinilai pengaruhnya terhadap lingkungan sepanjang daur hidupnya mulai dari ekstraksi bahan baku sampai dengan pengolahan akhir. Kedua seri standard tersebut dapat menjadi indikator capaian TPB untuk 2, 8, 9, 11, 12, 14 dan 15.

Berikut gambaran untuk memperjelas maksud indikator capaian pada TPB 12 yaitu “menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan”. Pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan diasumsikan sebagai kegiatan memproduksi dan mengkonsumsi suatu produk secara bertanggung jawab sehingga meminimalkan dampak negatif yang timbul terhadap lingkungan. Hal tersebut dimulai dari proses produksi yang mempertimbangkan aspek lingkungan dan menghasilkan produk yang ramah terhadap lingkungan sewaktu digunakan (konsumsi) dan setelah tidak lagi digunakan,  sehingga dampak negatif kepada lingkungan dari sisi produksi dan konsumi dapat dihindari atau diminimalkan.

Memperhatikan aspek produksi dan konsumsi produk berarti melalukan studi penilain daur hidup produk mulai dari pengadaan bahan baku, pengiriman, desain, produksi, distribusi, penggunaan, pengolahan akhir dan pembuangan akhir. Dari siklus daur produk tersebut diketahui : sumber daya alam yang digunakan sehingga dapat dilakukan efisiensi dan penggunaan secara berkelanjutan, minimisasi limbah karena sudah diketahui sumber disepanjang daur hidupnya dan memudahkan untuk digunakan kembali atau diguna ulang karena produk telah didesain sedemikian rupa.

Hasil studi daur hidup disusun menjadi dokumen penyerta produk yang informatif yang biasa disebut Pernyataan Lingkungan Produk  (environmental product declaration (EPD)) yang memberikan informasi kepada konsumen tentang produk yang dibelinya.

Kriteria produk tertentu yang ditetapkan untuk mendapatkan eco-label  biasanya juga sudah mempertimbangkan aspek lingkungan sepanjang daur hidup produk, mulai dari bahan baku sampai dengan produk tersebut tidak lagi digunakan. Kriteria tersebut ditetapkan berdasarkan studi yang dilakukan untuk menentukan batasan yang diperbolehkan.

Eco-label yang diperoleh dapat diletakkan pada produk atau kemasan sehingga dapat menginformasikan bahwa produk tersebut telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.  Dengan demikian maka konsumen akan gampang mengetahui produk yang dikonsumsinya.

Ketika banyak organisasi yang telah melakukan studi “penilaian daur hidup” produknya atau ketika sudah banyak produk dipasaran yang  mendapatkan “eco-label” diasumsikan bahwa sudah banyak produk dipasaran yang menerapkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Sehingga dapat dipastikan terlaksananya pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.

 

SNI

Dari dua contoh penggunaan standar ISO di atas yang terkait dengan sistem manajemen dan produk, maka dapat dilihat bagaimana standard dapat menjadi indikator capaian TPB. Pada saat ini standar ISO 14001:2015 dan beberapa standard seri ISO 14020 dan seri ISO 14040 telah diadopsi menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI) oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Komite Teknisnya yang berada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selain standard yang diterbitkan ISO/TC 207 Environmental management, BSN juga sudah banyak mengadopsi standard yang diterbitkan ISO/TC lainnya seperti untuk ISO/TC 176 Quality management and quality assurance. Adopsi tersebut dimaksudkan agar standard tersebut dapat dengan mudah dipahami karena sudah dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti.

Menetapkan indikator capaian dengan instrument standar ISO sangat perlu untuk dipertimbangkan, karena standard ISO adalah salah satu bentuk bahasa universal yang diakui oleh banyak negaran sehingga ada kesamaan pemahaman antar Negara.  Untuk itu BSN, Instansi Pelaksana dan Komite Teknis perlu mengidentifikasi standar ISO yang dapat digunakan sebagai indikator capaian. Sehingga ada kesepakatan antar Instansi Pelaksana terhadap indikator capaian yang akan digunakan. Dengan kesepakatan tersebut akan memudahkan pengindikasian capaian yang ditargetkan sampai dengan 2019.

Namun demikian pada saat ini baru standar ISO 14001 yang banyak digunakan di Indonesia terutama di kalangan industri. Untuk standar seri ISO 14040 dan seri ISO 14020 belumlah digunakan secara luas, namun sudah ada usaha dari lembaga penelitian dan organisasi keilmuan untuk  mulai mensosialisasikan dan melakukan penelitiannya. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama pihak terkait baik universitas, lembaga penelitian, industri, dan Pemerintah untuk bersama mensosialisasikan, mengembangkan dan menerapkan standard-standar tersebu. Hal ini bukan saja hanya untuk sebagai indikator capaian TPB namun lebih dari itu juga sebagai acuan bagi semua pihak di Indonesia untuk menuju perbaikan kualitas ligkungan dan kehidupan yang lebih baik.

Tentang Kami
Indonesia Green Product merupakan wadah untuk berbagi informasi bagi Konsumen dan Produsen yang memperhatikan aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi atau diproduksi.
Lokasi

Rumah Kecapi
Jl. Lengkong Gudang Timur III
Serpong, Tangerang Selatan
Indonesia

Email : info@indonesiagreenproduct.com

Statistik
Flag Counter