PRODUK HIJAU INDONESIA

Tri Hendro A. Utomo, Mei 2015

 

Pada kesempatan Tropical Landscape Summit yang diadakan di Jakarta pada 27-28 April 2015 lalu kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal menawarkan program pemberian insentif bagi bidang usaha ramah lingkungan atau investasi hijau (green investment). Ada 10 bidang usaha yang mendapatkan insentif tersebut yaitu pengusahaan tenaga panas bumi, industri pemurnian dan pengolahan gas alam, industri kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, industri lampu tabung gas, dan pembangkit tenaga listrik. Selain itu 5 bidang industri lainnya adalah pengadaan gas alam dan buatan, penampungan penjernihan dan penampungan air bersih, angkutan perkotaan yang ramah lingkungan, kawasan pariwisata, dan terakhir adalah pengelolaan dan pembungan sampah yang tidak berbahaya. (Kompas 27.02.2015)

 

Produk Hijau

Program investasi hijau tersebut diharapkan mampu membawa angin segar bagi dunia bisnis di Indonesia, lebih dari itu diharapkan dari industri yang mendapatkan insentif tersebut juga mampu memproduksi produk yang hijau /green atau ramah terhadap lingkungan (produk hijau). Karena sangat disayangkan jika pertimbangan pemberian insentif tersebut tidak mempertimbangkan produk yang dihasilkan. Semoga kesepuluh bidang usaha tersebut di atas dikatakan ramah lingkungan karena juga telah memperhatikan rangkaian kegitan produksi dan produk yang dihasilkan.

 

Selama ini permasalahan lingkungan akibat dari proses produksi, penggunaan produk dan setelah produk tidak lagi digunakan menjadi pekerjaan rumah dalam menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungan. Oleh sebab itu sudah saatnya industri di Indonesia mulai mempertimbangkan untuk memproduksi produk hijau untuk mengurangi permasalahan tersebut. Produk hijau merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan bagi upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Produk hijau dapat diartikan sebagai produk yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan sepanjang daur hidupnya (life cycle) mulai dari ektraksi bahan baku, proses produksi, transportasi, penggunaan dan setelah produk tersebut tidak lagi digunakan sehingga berdampak minim bagi lingkungan. Oleh karena itu dipandang perlu untuk juga memberikan insentif tersebut kepada bidang usaha yang memproduksi produk hijau. Sehingga dapat menjadi pendorong usaha untuk menghasilkan produk hijau.

Saat ini produk hijau masih jarang ditemukan dipasaran di tanah air, hanya sedikit produk hijau lokal atau import yang ada dipasaran. Untuk mengetahui produk hijau tersebut setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama adalah dengan melihat label yang berupa logo atau pernyataan pada produk atau kemasan yang mengidentifikasin produk hijau. Label tersebut biasanya disebut dengan ekolabel/ecolabel. Label lingkungan atau ekolabel diartikan sebagai pernyataan yang menunjukan aspek lingkungan dalam suatu produk atau jasa (ISO 14020 : 1998 (E)). Sehingga produk yang telah mendapatkan ekolabel dapat menjadi indikator bahwa produk tersebut ramah terhadap lingkungan dibanding produk lain yang sejenis yang tidak berekolabel karena produk tersebut telah mempertimbangkan aspek lingkungan. Cara kedua adalah dengan melihat pernyataan yang ada pada produk atau kemasan yang berupa informasi diantaranya mengenai komposisi produk, cara penggunaan atau penanganan ketika sudah tidak digunakan lagi.

 

Produk Hijau Indonesia

Apakah Indonesia mengembangkan program produk hijau atau ekolabel? Pada acara Pekan Lingkungan Hidup Tahun 2004, Kementerian Lingkungan Hidup (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) meluncurkan logo dan skema Ekolabel Indonesia. Tahun tersebut bisa dikatakan sebagai tonggak awal program ekolabel di Indonesia. Sampai dengan awal Tahun 2015 pencapaian program Ekolabel Indonesia salah satunya adalah telah menyusun standar kriteria ekolabel dalam bentuk Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk 13 kategori produk. Dari 13 SNI tersebut hanya 2 standar yang sudah digunakan untuk sertifikasi yaitu kertas cetak tanpa salut dan kertas kemas sementara standar lainnya belum ada yang mengaplikasikan. Selain itu belum semua merek produk dari 2 kategori produk tersebut sertifikasi Ekolabel Indonesia. Sehingga dipasaran hanya ditemukan 2 jenis produk yang menggunakan logo Ekolabel Indonesia dari merek tertentu.

Kenapa produk hijau atau berekolabel sangat sedikit dipasar Indonesia? keberadaan konsumen dan produsen mempengaruhi keberasaan produk hijau dipasaran karena produk hijau dipengaruhi oleh pasar (market driven). Dari sisi produsen masih banyak yang belum menyadari dampak positif dari memproduksi produk hijau baik dari aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Selain itu belum ada atau sangat minim permintaan konsumen terhadap produk hijau. Sehingga produsen berpendapat selama produk yang diproduksi masih laku dipasaran maka tidak perlu melakukan perubahan pada produk yang dihasilkan.

Dari sisi konsumen, masih banyak konsumen Indonesia yang belum mempertimbangkan aspek lingkungan dari produk yang dibeli. Pertimbangan sebagian besar konsumen tersebut adalah harga. Sehingga sangat jarang ditemukan konsumen yang melihat dengan jeli informasi pada produk yang dibeli terlebih lagi informasi mengenai aspek lingkungan. Hal tersebut disebabkan masih banyak konsumen yang belum mengetahui tentang keberadaan produk hijau dan beranggapan bahwa yang membedakan suatu produk hanyalah merek dan harga.

 

Kekuatan Konsumen

Jika kita masih menyangi bumi yang cuma satu dan sadar akan tanggungjawab dalam melestarikannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Serta mayakini produk hijau merupakan salah satu upaya mengatasi masalah lingkungan, maka keberadaan produk hijau di pasaran merupakan tanggungjawab kita bersama. Konsumen, produsen dan Pemerintah mempunyai peran penting dalam mendorong produk hijau di pasaran. Pada dasarnya kita semua sebagai individu merupakan konsumen, sehingga kita mempunyai kekuatan besar dalam mempengaruhi keberadaan produk hijau di pasaran. Kekuatan konsumen tersebut diharapkan dapat mempengaruhi pasar dengan menjadi penyeleksi terhadap produk dipasaran sehingga nantinya hanya produk hijaulah yang ada dipasaran.

Langkah pertama kita sebagai konsumen adalah dengan mulai menjalankan atau mengkampanyekan pola green consumer atau konsumen hijau yang hanya mengkomsumsi produk hijau. Hal ini dapat dimulai dengan mendorong untuk memahami aspek lingkungan pada produk yang akan dibeli dengan melihat label atau informasi yang ada pada kemasan atau produknya. Hanya membeli produk hijau daripada produk lain yang sejenis yang bukan produk hijau serta tidak hanya mempertimbangkan harga dalam membeli produk.

Meskipun dipengaruhi pasar peran Pemerintah sangatlah penting dalam mendorong keberadaan produk hijau dipasaran. Selain memberikan insentif dan mengeluarkan regulasi Pemerintah juga berperan sebagai konsumen yang potensial yang setiap tahunnya selalu melakukan pengadaan barang/jasa dalam jumlah besar. Untuk itu perlu kiranya Pemerintah pusat dan daerah juga sudah memasukkan kriteria produk hijau dalam pengadaan barang/jasa. Peran lain Pemerintah adalah dengan menyusun standar kriteria untuk produk hijau. Standar ini diharapakan dapat menjadi acuan produk hijau dalam negeri sehingga produk yang beredar di dalam negeri haruslah telah memenuhi standar tersebut. Fungsi lain dari standar tersebut adalah sebagai filter terhadap barang impor. Hal ini menjadi penting karena kita tidak ingin barang yang diimpor menimbulkan dampak terhadap lingkungan ketika penggunaan dan setelah tidak lagi digunakan.

Peran lain Pemerintah adalah mengedukasi konsumen untuk mulai mengkonsumsi produk hijau dan mengkampanyekan kepada produsen untuk mulai memproduksi produk hijau. Pendekatan kepada konsumen dan produsen tersebut diharapkan dapat menciptakan permintaan akan produk hijau oleh konsumen dan kertersedian produk hijau oleh produsen yang selanjutnya menciptakan keberlanjutan dari sisi konsumsi dan produksi (sustainable consumption and production).

 

Produk Lokal

Adakah langkah mudah yang dapat segera dilakukan? Tanpa kita sadari dengan mengkonsumsi produk lokal kita sudah mulai mengkonsumsi produk hijau. Dengan pertimbangan bahwa produk lokal lebih ramah lingkungan dari produk non-lokal dari sisi emisi Carbondioksida yang dihasilkan. Seperti yang kita ketahui bahwa Carbonmonoksida adalah salah satu unsur penyebab efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.

Carbonmonoksida dihasilkan salah satunya dari kegiatan transportasi. Dimana transportasi yang digunakan untuk membawa produk dari luar daerah akan lebih banyak membutuhkan pembakaran energy yang menghasilkan Karbonmonosida dibanding produk lokal yang hanya perlu sedikit pembakaran energinya untuk tansportasi.

info  lebih lanjut : info@indonesiagreenproduct.com

Tentang Kami
Indonesia Green Product merupakan wadah untuk berbagi informasi bagi Konsumen dan Produsen yang memperhatikan aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi atau diproduksi.
Lokasi

Rumah Kecapi
Jl. Lengkong Gudang Timur III
Serpong, Tangerang Selatan
Indonesia

Email : info@indonesiagreenproduct.com

Statistik
Flag Counter