Manajemen Persampahan

Waste Management

Permasalahan sampah kini menjadi isu yang belum terselesaikan di beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia, salah satunya di DKI Jakarta. Permasalahan sampah seharusnya bukan hanya menjadi tanggungjawab para pemangku kepentingan tetapi merupakan tanggungjawab bersama dengan menjalankan fungsi masing-masing dan saling terintegrasi serta akan lebih baik jika dikelola secara sistematis.

Kalau kita melihat Grafikota yang ada di Kompas terbitan 1 Agustus 2019,  Halaman 18, dengan judul Jakarta Darurat Sampah Plastik dapat kita lihat bahwa :

  1. Pada saat ini DKI Jakarta menghasilkan kurang lebih 7.500 ton sampah setiap hari;
  2. 59,17 % dari samapah tersebut dihasilkan dari kegiatan Rumah Tangga, dilanjutnya dengan sampah dari Perkantoran sejumlah 10,76%;
  3. Dari 7.500 ton sampah tersebut 53,75% merupakan sampah organik, dilanjutkan dengan sampah kertas dan plastik sejumlah 14,02%;

Dari Grafikota tersebut mari kita diskusikan terkait sampah di Jakarta secara umum tidak hanya sampah plastik dan kita lihat berdasarkan sumber sampah.

Rumah Tangga

Jakarta menghasilkan sekitar 4,500 ton  sampah organik setiap hari. Jumlah sampah tersebut seharusnya tidak sampai ke TPA sehingga dapat mengurangi beban TPA. Selain itu ketika sampah yang dapat di daur ulang (contoh kertas) terkontaminasi dengan sampah organik (salah satunya), maka akan sulit untuk di daur ulang. Sampah organik ini diasumsikan sebagian besar berasal dari kegiatan Rumah Tangga, pasar tradisional, pusat perniagaan dan perkantoran. Kalau kita lihat lebih spesisifik lagi dari kegiatan Rumah Tangga sampah oragnik bisa berasal dari kegiatan di dapur, kegiatan makan dan dari halaman. Dari kegiatan dapur banyak hal yang dapat menghasilkan sampah organik diantaranya : bahan makanan yang busuk atau rusak sebelum diolah  (food loss), potongan sayur dan  kulit buah. Dari kegiatan makan berasal dar sisa makanan atau makanan berlebih yang tidak dikonsumsi (food waste). Food waste dan food loss ini juga dapat berasal dari kegiatan  katering baik untuk penyediaan makan karyawan suatu organisasi, pesta pernikahan dan perayaan event lainnya. Untuk sampah organik rumah tangga dari halaman mungkin tidak terlalu banyak di kota besar. Sampah ini bisa berasal dari daun kering, tanaman mati, hasil pangkasan atau tebangan tanaman atau pohon.

Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah sampah organik rumah tangga masuk ke TPA. Pertama dapat dilakukan adalah dengan mengurangi food waste yaitu dengan membuat menu yang akan dimasak dan membeli secukupnya, jika membeli salam jumlah banyak dan untuk waktu lama (contoh belanja mingguan) pastikan penyimpanannya dan tempat penyimpanan harus mendukung sehingga tidak menyebabkan rusak atau busuk. Olahlah makanan sesuai dengan yang direncanakan dengan menyesuaikan jumlah makanan dan jumlah yang makan agar tidak terjadi food waste. Jika masih ada sampah organik misal dari potongan sayur atau kulit buah, upayakan untuk dipisahkan dengan yang bukan organik atau yang akan diguna ulang atau daur ulang. Sampah yang telah dipisah tersebut dapat dioleh menjadi kompos, jika tidak memiliki fasilitas kompos sendiri mungkin dapat dilakukan secara bersama.

Untuk sampah anorganik dapat diidentifikasi mana yang dapat diguna ulang atau didaur ulang. Sampah anorganik tersebut dapat dikelola sendiri atau diserahkan kepada pihak lain seperti petugas sampah atau pemulung, namun lebih disarankan diserahkan (jangan berharap dibeli) ke Bank samapah atau mereka yang memerlukan.

Untuk mengurangi sampah anorganik, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh rumah tangga, diantaranya mengurangi pembelian produk yang menggunakan kemasan atau ketika menggunakan kemasan pilih kemasan yang dapat guna ulang atau daur ulang. Kedua, perhatikan tanggal kadaluarsa untuk menghindari produk tidak dapat digunakan sehingga menjadi sampah. Ketiga, produk yang dibeli sebaiknya wadah atau kemasannya tidak mudah rusak sehingga menjaga produk dapat dipakai dan tidak rusak. Keempat, pilihlah produk, wadah atau kemasannya yang ramah lingkungan sehingga ketika produk, wadah atau kemasannya rusak dan menjadi sampah tidak menganggu lingkungan.

Perkantoran

Sampah perkantoran biasanya didominasi oleh sampah dari kegiatan administrasi perkantoran. Sampah dapat berupa kertas, plastic dan sedikit smpah organik, namun jika perkantoran memiliki kantin maka sampah organik akan lebih banyak.

Penanganan sampah organik perkantoran depat dilakukan dengan penanganan foot waste seperti di atas karena biasanya kantin membawa bahan sudah dimasak atau siap dimasak sehingga sampah organik yang ada kemungkinan hanya dari sisa makanan. Untuk sampah anorganik beberapa hal selain penanganan sampah anorganik di atas dapat dilakukan diantaranya mulai untuk mengurangi penggunaan kertas dengan penggunaan dokumen elektronik (paperless)  atau memaksimalkan penggunaan kertas (pakai 2 sisi).

Sampah dikantor seharusnya lebih mudah untuk dipisahkan atau dipilah dari awal karena banyak menghasilkan sampah anorganik yang berpotensi untuk di guna ulang atau di daur ulang.

Pusat Perniagaan

Pusat perniagaan biasanya tidak jauh beda dengan perkantoran. Pada pusat perniagaan biasanya didominasi oleh sampah kemasan yang seharusnya lebih mudah pemilahannya untuk dapat diguna ulang atau daur ulang.

Fasilitas Publik

Pada pasilitas publik lebih banyak didominasi oleh sampah dari kemasan dan sedikit sampah organik. Sampah dari kemasan dari fasilitas publik sangat bervariasi daru kemasan makanan dan minuman serta bahan kemasannya. Untuk itu pengelola fasilitas publik harus cermat dalam memilah sampah kemasan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan tempat makan dan minum khusus sehingg sampah dari kemasan dan terkumpul untuk kemudia dipilah untuk didaur ulang.

Pasar Tradisional

Pasa tradisional lebih sampah organik yang dihasilkan. Sampah ini berasal dari sayur dan buah-buahan yang sudah tidak bisa dikonsumsi (food loss)atau dijual serta sedikit sampah sisa makanan (food waste). Upaya yang dpat dilakukan oleh pasar trasional dalam mengurangi food loss adalah dengan menerima sayuran dari petani yang sudah bersih, menjaga agar sayuran dan buah-buahan dapat terjaga agar tidak rusak. Untuk itu perlu disediakan tempat khusus untuk menampung food loss  tersebut. Karena jumlahnya relatif banyak, pihak pasar dapat mengupayakan untuk menjadikan food loss dan food waste tersebut menjadi kompos.

Sampah anorganik di pasar biasanya hanya berupa kemasan, upaya yang dilakukan adalah dengan berupaya mengurangi penggunaan kemasan. Namun jika tidak mungkin dihindari diupayakan agara sampah kemasan tidak tercampur dengan sampah organik sehingga mudah untuk diolah lebih lanjut (daur ulang/guna ulang).

Sampah Kawasan

Dari kawasan sampahnya banyak berupa anorganik hampir sama dengan pusat perniagaan, namun lebih banyak untuk keperluan industri. Seperti contoh kemasan bahan baku atau penolong untuk kegiatan industry. Beberapa kemasan tersebut termasuk limbah B3 yang perlu penanganan khusus. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan kemasan atau kemasan diambil kembali oleh pemasok.

Upaya-upaya di atas adalah upaya yang dapat dilakukan pada sumber sampah, upaya selanjutnya harus terintegrasi dengan fasilitas yang ada diantaranya yang disediakan oleh pihak Pemerintah Daerah maupun Pusat. Dengan terintegrasinya pengelolaan ini akan memudahkan pengolahan akhirnya. Untuk itu perlu management sampah (waste management) yang jelas yang memberikan  fungsi dan tanggung jawab masing-masing para pihak.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk baan diskusi dan memberikan gambaran secara umum pengelolaan samapah, namunperlu diperhatikan bahwa dalam pengelolaan sampah ada istilah “No one-size fit for all”.

Tentang Kami
Indonesia Green Product merupakan wadah untuk berbagi informasi bagi Konsumen dan Produsen yang memperhatikan aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi atau diproduksi.
Lokasi

Rumah Kecapi
Jl. Lengkong Gudang Timur III
Serpong, Tangerang Selatan
Indonesia

Email : info@indonesiagreenproduct.com

Statistik
Flag Counter