Life cycle assessment dan Environmental labeling

Tri Hendro A. Utomo, Maret 2015

lca product

Daur hidup produk

Dampak lingkungan yang berpotensi mencemari lingkungan tidaklah hanya dihasilkan dari proses produksi suatu produk pada suatu organisasi (perusahaan, korporasi, firma, dll) namun dapat dihasilkan dari rantaian proses produksi sampai dengan konsumsi. Proses produksi hanya salah satu bagian dari rangkaian proses untuk menghasilkan sesuatu produk (barang/jasa). Rangkaian proses tersebut akan menimbulkan dampak lingkungan sesuai dengan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan. Untuk dapat melihat dampak tersebut maka perlu melihat daur hidup atau rantai kehidupan suatu produk. Dampak lingkungan dari suatu produk dapat dihasilkan mulai dari ekstraksi bahan baku sampai dengan produk tidak lagi digunakan atau digunakan kembali.

 

ISO 14040 Series

Banyak metode yang dikembangkan yang dapat digunakan untuk melihat potensi dampak lingkungan dari daur hidup suatu produk. Salah satu metode tersebut dikembangkan oleh International Organization for Standardization (ISO) Technical Committee (TC) 207 (ISO/TC 207) melalui Steering Committee (SC) 5. SC 5 diberi amanat untuk menyusun Standar Internasional mengenai life cycle assessment (LCA) atau analisas daur hidup. Standar ISO mengenai LCA dikelompokkan dalam standar ISO 14040 series. ISO mendefinisikan LCA sebagai:

compilation and evaluation of the inputs, outputs and the potential impacts of product system throughout its life cycles (ISO 14040)

Standar pertama mengenai LCA terbit pertama pada tahun 1997 yaitu:

– ISO 14040 – LCA – Principle and framework.

dalam rangka penerapan LCA, ISO/TC 207 melalui SC 5 kemudian menerbitkan beberapa standar terkait penerapan LCA yaitu :

  1. ISO 14041 – LCA – Goal and scope definition;
  2. ISO 14042 – LCA – Life cycle impact assessment;
  3. ISO 14043 – LCA – Life cycle interpretation;
  4. ISO 14044 – LCA – Requirements and guidelines.

Selain standar di atas SC 5 juga menerbitkan beberapa standar tambahan yang bertujuan untuk memberikan gambaran atau contoh penerapannya yaitu :

  1. ISO/TR 14047 LCA – Examples of application of ISO 14041;
  2. ISO/TS 14048 – LCA – Data documentation format;
  3. ISO/TR 14049 – LCA – Examples of application of ISO 14041 to goal and scope definition and inventory analysis.

Standar di atas akan dibahas pada kesempatan lain.

Sejak diterbitkannya pada tahun 1997, standar LCA semakin berkembang dan banyak dijadikan acuan atau metode dasar pengembangan standar turunannya. Beberapa standar yang mengadopsi metode atau menggunakan standar LCA sebagai acuan diantaranya :

  1. Eco-efficiency;
  2. Material flow cost accounting;
  3. Carbon footprint;
  4. Water footprint;
  5. Environmental labeling (ecolabel / ekolabel).

Tulisan ini selanjutnya hanya akan membahas mengenai penerapan LCA pada ekolabel (butir 5) sedangkan yang lainnya (butir 1 – 4) akan dibahas pada kesempatan lain.

 

LCA dan Ekolabel

Selain SC 5 yang mengembangkan LCA, ISO/TC 207 juga membentuk SC 3 yang mengemban tugas mengembangkan standar mengenai environmental labeling atau yang sering dikenal dengan ecolabel / ekolabel. SC 3 telah menerbitkan 3 (tiga) tipe ekolabel yang dikelompkkan dalam ISO 14020 series yaitu:

  1. ISO 14021 – Environmental label and declaration – Self-declared environmental claims (Type II environmental labeling);
  2. ISO 14024 – Environmental label and declaration – Type I environmental labeling – Principles and procedures;
  3. ISO 14025 – Environmental label and declaration – Type III environmental declaration – Principles and procedures

Berikut aplikasi LCA dalam pengembangan Ekolabel.

1.     Ekolabel Tipe I;

Ekolabel tipe I biasa disebut dengan ekolabel multi kriteria dikarenakan produk yang mendapatkan logo ekolabel harus memilik spesifikasi yang sesuai dengan kriteria ekolabel untuk kategori produk tertentu. Definisi dari Type I environmental labeling programme adalah:

voluntary, multiple-criteria-based third party programme that awards a licence which authorizes the use of environmental labels on products indicating overall environmental preferability of a product within a particular product category based on life cycle considerations. (ISO 14024)

Pada model ekolabel ini suatu produk dapat menggunakan logo ekolabel setelah produk tersebut disertifikasi oleh pihak ketiga yang independen. Proses sertifikasi yang dilakukan adalah dengan melihat kesesuaian spesifikasi produk dengan standar ekolabel untuk kategori produk yang sesuai. Standar yang disusun tersebut harus sudah mempertimbangkan aspek lingkungan dari daur hidup (life cycle consideration) produk tersebut. Daur hidup yang dimaksud adalah mulai dari proses ektraksi bahan baku – produksi – distribusi – penggunaan dan setelah produk tersebut tidak lagi digunakan.

Proses penyusunan standar produk ekolabel tipe I disusun oleh suatu organisasi yang mengembangkan program ekolabel. Beberapa Negara telah memiliki institusi yang mengembangkan program ekolabel, daftar Negara yang telah mengembangkan program ekolabel dapat dilihat di tautan. Standar yang disusun melibatkan banyak pihak terkait baik dari universitas, lembaga penelitian, praktisi dan ahli.

Menggunakan produk yang telah mendapatkan logo ekolabel berarti kita telah menggunakan produk yang ramah lingkungan karena produk tersebut telah mempertimbangkan aspek lingkungan sepanjang daur hidupnya.

2.    Ekolabel Tipe II

Tipe ekolabel ini disebut dengan ekolabel klaim lingkungan swadeklarasi atau pernyataan diri (self declared). Klaim lingkungan swadeklarasi didefinisikan sebegai berikut:

klaim lingkungan yang dibuat oleh produsen, importer, distributor, pengecer atau pihak lain yang mungkin memperoleh manfaat dari klaim tersebut, tanpa sertifikasi pihak ketiga yang mandiri. (SNI ISO 14021-2009)

Secara langsung tipe ekolabel ini tidak mempersyaratkan untuk untuk mempertimbangkan aspek lingkungan dari daur hidup produknya. Namun dalam menetapkan klaim lingkungan organisasi dapat melihat daur hidup dari produk yang diproduksi. Dimana klaim lingkungan tersebut bisa berasal dari bahan baku – proses produksi – penggunaan produk dan setelah produsk tersebut tidak lagi digunakan.

Berikut adalah beberapa contoh klaim lingkungan swadeklarasi yang dapat diidentifikasi dari daur hidup suatu produk :

Bahan baku:

  • kandungan hasil daur ulang (recycle content);

Proses produksi

  • pengurangan pemakaian sumber daya ( reduced resources use);
  • pengurangan konsumsi air (reduced water consumption);

Penggunaan produk:

  • perpanjang usia produk (extended life product);
  • energy yang dipulihkan (recovered energy);
  • pengurangan konsumsi energy (reduced energy consumption)

Setelah produk tidak lagi digunakan:

  • dapat dibuat kompos (compostable);
  • dapat terurai (degradable);
  • dirancang untuk dapat diurai (design for disassembly);
  • dapat didaur ulang (recyclable);
  • dapat digunakan kembali (reusable);
  • dapat diisi ulang (refillable)

Maksud dari masing-masing klaim di atas akan dibahas peda kesempatan lain.

3.     Ekolabel Tipe III

Tipe ketiga dari program ekolabel yang dikembangkan oleh ISO/TC 207 ini mengharuskan melakukan kuantifikasi data lingkungan sepanjang daur hidup suatu produk. Pada model ekolabel ini suatu organisasi mendeklarasikan secara kuantifikasi aspek lingkungan dari produk yang dihasilkan sepanjang daur hidup produk tersebut. Dalam standar ISO 14025 ekolabel tipe III didefinsikan :

quantified environmental data for a product, with pre-determined parameter, base on ISO 14040 series of standard, which may be supplemented by other qualitative and quantitative information.

Ekolabel tipe III ini biasanya disusun sebagai informasi kepada business to business (b to b) tapi tidak juga menutup kemungkinan busines to consumer (b to c). Dokumen deklarasi ekolabel tipe III ini dikenal luas dengan istilah Environmental Product Declaration (EDP).

Konsumen Hijau

Bagi Anda Konsumen Hijau (green consumers) jika dihadapkan kepada 2 produk yang sama fungsinya namun salah satunya telah mendapatkan logo ekolabel tipe I yang lain hanya melakukan klaim lingkungan (ekolabel tipe II), maka sebaiknya pilihlah yang telah mendapatkan logo ekolabel. Produk yang telah memiliki logo ekolabel berarti telah mempertimbangkan aspek lingkungan dari daur hidup produk tersebut dan telah diverifikasi oleh pihak ketiga. Sedangkan untuk ekolabel tipe II hanya mempertimbangkan satu aspek lingkungan dari produk tersebut. Namun jika tidak terdapat produk yang telah mendapatkan logo ekolabel, produk yang telah melakukan swadeklarsi adalah alternative terbaik.

 

Pustaka :

  1. ISO 14040 – 2006 Environmental management – Life cycle assessment – Principle and framework;
  2. ISO 14024 – 1999 Environmental labels and declarations – Type I environmental labelling – Principles and procedures;
  3. SNI ISO 14021:2009 Label lingkungan dan deklarasi – Klaim lingkungan swadeklarasi (pelabelan lingkungan Tipe II);
  4. ISO 14025:2006 Environmental labels and declarations – Tipe III environmental declarations – Principles and procedures
Tentang Kami
Indonesia Green Product merupakan wadah untuk berbagi informasi bagi Konsumen dan Produsen yang memperhatikan aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi atau diproduksi.
Lokasi

Rumah Kecapi
Jl. Lengkong Gudang Timur III
Serpong, Tangerang Selatan
Indonesia

Email : info@indonesiagreenproduct.com

Statistik
Flag Counter