Ekolabel dan Peningkatan Daya Saing Produk

Tri Hendro A. Utomo, 2012

 

Semua produk yang dihasilkan dari suatu proses produksi mempunyai dampak terhadap lingkungan walaupun produk tersebut mengklaim sebagai produk ramah lingkungan. Dampak tersebut bisa terjadi pada proses produksi, konsumsi maupun setelah pemakaian. Dampak tersebut dapat berupa dampak negatif atau positif.

 

Lingkungan dan Perdagangan

Permasalahan lingkungan yang selama ini terjadi seperti pemanasan global, membuat konsumen semakin peduli terhadap lingkungan, karena mereka yakin produk yang digunakan dihasilkan dari suatu proses yang mungkin memberikan kontribusi bagi kerusakan lingkungan. Gerakan green consumerism ini menjadi trend yang mengglobal karena menginginkan kualitas lingkungan yang baik buat kehidupan. Pada saat ini konsumen berani membayar lebih untuk produk yang biasa disebut eco-friendly product, eco-product dan lain-lain.

Pada level regional kepedulian terhadap lingkungan sudah mulai masuk pada sektor industri dan perdagangan. Sebagai salah satu contoh, APEC telah mulai memasukan isu lingkungan dalam perdaganan. APEC mulai meminta anggotanya untuk mamasukan daftar produk ramah lingkungan dari negara anggota APEC.

Pada level Nasional, isu lingkungan juga sudah dipertimbangkan. Banyak program yang dikembangkan terkait isu lingkungan dalam perdagangan dan perbaikan kualitas lingkungan. Salah satu program yang dikembangkan adalah green procurement atau sustainable procurement. Program ini menekankan pertimbangkan penggunaan barang yang ramah lingkungan dalam proses pengadaannya.

Model Sustainble Consumption and Production kini mulai gencar di kampanyekan. Model mulai mempertimbangkan keberlanjutan dari sisi produksi dan konsumsi.

 

Komunikasi Aspek Lingkungan

Meningkatnya kesadaran konsumen akan aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi akan meningkatkan permintaan akan produk yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan baik disisi produksi dan konsumsi. Aspek lingkungan pada suatu produk perlu dikomunikasikan agar konsumen mengerti aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi. Selain itu pengkomunikasian aspek lingkungan tersebut juga dapat menjadikan nilai lebih dari suatu produk dibanding produk sejenis lainnya. Sehingga menjadi nilai tambah dan meningkatkan daya saing dipasaran.

Label atau penandaan pada suatu produk baik berupa gambar atau pernyataan, merupakan alat identifikasi yang baik dan efektif dalam rangka menyampaikan informasi lingkungan pada konsumen. Hal ini disebabkan karena konsumen cenderung lebih mudah melihat gambar atau pernyataan dari suatu produk untuk mengetahui informasi mengenai produk tersebut.

 

Environmental Labelling

 
environmental label
claim which indicates the environmental aspects of a product or service (ISO 14020 : 1998 (E))
 
label lingkungan
pernyataan yang menunjukan aspek lingkungan dalam suatu produk atau jasa
 

Label lingkungan atau ekolabel merupakan perangkat manjemen lingkungan yang bersifat proaktif sukarela dalam upaya memperbaiki kualitas lingkungan dari sisi produksi dan konsumsi suatu produk. Ekolabel juga merupakan sarana penyampaian informasi yang akurat, ‘verifiable’ dan tidak menyesatkan kepada konsumen mengenai aspek lingkungan dari suatu produk.

Dalam penerapan ekolabel, International Organization for Standardization Technical Committee 207 (ISO/TC 207) mengembangkan Standar Internasional sebagai rujukan dalam penerapannya yaitu :

 Ekolabel Tipe I, model ekolabel ini besifat sukarela, berbasis multi kriteria dengan proses evaluasi oleh pihak ketiga, standar rujukan ISO 14024 Environmental labels and declarations – Type I environmental labelling – Principles and procedures.

 Ekolabel Tipe II, pada model ini produsen suatu produk dapat mengklaim atau mendeklarasikan sendiri (swadeklarasi) aspek lingkunan dari produknya tanpa pemenuhan terhadap kriteria yang ditetapkan dan sertifikasi dari pihak ketiga. Rujukan standar yang digunakan ISO 14021 Environmental labels and declaratios – Self-declared environmental claims (Type II environmental labelling).

 Ekolabel Tipe III, adalah model ekolabel yang menginformasikan aspek lingkungan pada produk secara kuantitatif. Standar rujukan ISO 14025 Environmental labels and declarations – Type III environmental declarations – Principles and procedures.

 

Ekolabel Indonesia

Pada saat ini Indonesia mengembangkan 2 program ekolabel yaitu  Ekolabel Indonesia dan Ekolabel Swadeklarasi Indonesia.

Program Ekolabel Indonesia

adalah program ekolabel yang dikembangkan oleh KLH merujuk pada ekolabel tipe I. Berikut adalah beberapa prinsip dalam penerapan ekolabel tipe I :

  1. Multi kriteria;
  2. Proaktif, dengan proses evaluasi oleh pihak ketiga (Lembaga Sertifiksi Eklabel) yang kompeten dan kredibel;
  3. Penggunaan logo ekolabel diijinkan apabila produk memenuhi kriteria untuk kategori produk tertentu;
  4. Kriteria disusun dengan mempertimbangkan dampak lingkungan sepanjang daur hidup produk;
  5. Kriteria ekolabel harus objektif, tidak memihak dan berdasarkan data ilmiah;
  6. Transparansi dan keterlibatan stakeholders (proses konsensus);
  7. Tidak dimaksudkan untuk menghambat perdagangan

KLH melalui Panitia Teknis Manajemen Lingkungan telah menyusun kriteria ekolabel Indonesia yang diterbitkan dalam bentuk Standar Nasional Indonesia (SNI). Ada 7 kategori produk yang telah disusun dalam 11 kriteria ekolabelnya yaitu :

Kategori Produk:

  1. Kertas;
  2. Deterjen;
  3. Tekstil dan produk tekstil;
  4. Kulit;
  5. Baterai;
  6. Cat Tembok;
  7. Kantong Belanja Plastik

 

Kriteria ekolabel Indonesia :

No Judul SNI
1. Kriteria ekolabel – Bagian 1: Kategori produk kertas–Seksi 3: Kertas cetak tanpa salut SNI 19-7188.1.3-2006
2. Kriteria ekolabel – Bagian 2: Kategori produk deterjen – Seksi 1: Serbuk deterjen pencuci sintetik rumah tangga SNI 19-7188.2.1-2006
3. Kriteria ekolabel – Bagian 4: Kategori tekstil dan produk tekstil SNI 19-7188.4.1-2006
4. Kriteria ekolabel – Bagian 3: Kategori produk kulit – seksi 1: Kulit jadi SNI 19-7188.3.1-2006
5. Kriteria ekolabel – Bagian 3: Kategori produk kulit – Seksi 2: Sepatu kasual SNI 19-7188.3.2-2006
6. Kriteria ekolabel – Bagian 1: Kategori produk kertas – Seksi 2: Kertas tisu untuk kebersihan (Sanitary tissue) SNI 19-7188.1.2-2006
7. Kriteria ekolabel – Bagian 1: Kategori produk kertas – Seksi 1: Kertas kemas SNI 19-7188.1.1-2006
8. Kriteria ekolabel – Bagian 1: Kategori produk kertas – Seksi 4: Kertas cetak salut SNI 7188.1.4:2010
9. Kriteria ekolabel – Bagian 5: Kategori produk baterai – Seksi 1: Baterai primer tipe carbon zinc dan alkaline SNI 7188.5.1:2010
10. Kriteria ekolabel – Bagian 6: Kategori produk cat tembok SNI 7188.6:2010
11. Kriteria ekolabel – Bagian 7: Kategori produk kantong belanja plastik SNI 7188.7:2011

 

Untuk pelaksanaan sertifikasi ekolabel Indonesia, pada saat ini sudah ada 2 (dua) Lembaga Sertifikasi Ekolabel (LSE) yang beroperasi di Indonesia yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Sampai dengan saat ini sudah ada 4 (empat) industri dengan 19 (sembilan belas) merek produk yang telah sertifikasi Ekolabel Indonesia untuk Kriteria ekolabel Kertas cetak tanpa salut.

 

Logo Ekolabel Indonesia

Logo Ekolabel Indonesia

 

 

Program Ekolabel Swadeklarasi Indonesia

adalah program ekolabel yang dikembangkan oleh KLH yang merujuk pada model ekolabel tipe II. Program ini merupakan apresiasi kepada produsen yang telah mampu mempertimbangkan aspek lingkungan pada produknya.

Pada model ini KLH memberikan persetujuan untuk menggunakan logo Swadeklarsi Indonesia yang hak paten dimiliki oleh KLH setelah suatu produk diverifikasi terhadap kesesuaian klaimnya.

 

Logo Ekolabel Swadeklarasi

Logo Ekolabel Swadeklarasi

 

 

Tentang Kami
Indonesia Green Product merupakan wadah untuk berbagi informasi bagi Konsumen dan Produsen yang memperhatikan aspek lingkungan dari produk yang dikonsumsi atau diproduksi.
Lokasi

Rumah Kecapi
Jl. Lengkong Gudang Timur III
Serpong, Tangerang Selatan
Indonesia

Email : info@indonesiagreenproduct.com

Statistik
Flag Counter